Minggu kemarin aku
sengaja mudik untuk nyekseni tahlilan
40 hari meninggalnya bapakku. Dari Semarang aku memilih menggunakan kereta
menuju kampung halaman. Singkat cerita setelah menempuh perjalanan 4 jam lebih, sampailah aku di rumah.
Aku ingin cerita
sesuatu kawan. Aku mempunyai seorang nenek, dia seorang dukun bayi yang
terkenal sampai keluar desa. Nenekku sudah lama ditinggal mati oleh suaminya. Dia
tinggal di lain grumbul dengan grumbul keluarga ibuku. Nenekku sudah sangat
sepuh tetapi yang aku salut dia masih kuat dan semangat bekerja.
Sebenarnya keluarga
kami merasa kasihan kepada nenekku ini. Sudah tua tapi masih harus bekerja,
pernah suatu waktu ibuku menyarankan kepadanya untuk pensiun saja dan tinggal
bersama ibu. Tapi nenekku menolaknya dan tetap memilih tinggal bersama keluarga
di grumbul Ndesa. Keluarga ibuku sendiri
tinggal di grumbul Babakan, 2 menit dari grumbul Ndesa. Aku sendiri masih penasaran kenapa nenekku memilih untuk
tetap bekerja di usianya yang sudah senja. Malam itu rasa penasaranku terjawab.
Sehabis sholat Maghrib aku
rebahkan tubuhku ke kursi panjang ruang tamu. Di ruang tamu itu hanya ada 2
orang di sekitarku yaitu nenekku dan satunya sebut saja Yayu K. Saking capeknya aku mencoba memejamkan mata sambil menutup
muka dengan bantal. Sayup-sayup aku mencoba mendengar perbincangan mereka. Berbincang
dan terus berbincang, akhirnya nenekku mengeluarkan unek-unek yang kemungkinan
besar dipendamnya selama ini. Curhat.
“Jujur bae ya K, sebenere bukane nyong ora gelem neng
kene mbi mamake. Alasane nyong esih neng Ndesa
(salah satu grumbul di desaku) soale nyong esih dibutuhna neng wong-wong. Nek nyong
neng kene ibu-ibu sing bar ngalirna, sing neng Ndukuh, Keniten, Karangnangka,
pada bebeh ming Babakan soale adoh sih. Terus pasarane nyong kan neng kono. Kue
tok jane alasane nyong K. Nyong esih
dibutuhna karo esih kuat kerja.”
“Iya si yang. Bener Eyange esih ng kana, dadi
kepenak nek ana sing mbutuhna.”
“Selain kue jujur bae
ya K, siki mbok nyong wis ra tau
mbimbing wong nglairna bayi soale wis ra olih. Dadi nek ana sing wis besaran
kudune ming puskesmas Kedungbanteng. Pernah wingi ana wong lanang wengi-wengi ndodog-ndodog
lawang, ngomong: Eyang tulung banget kae
bojoku wis arep lairan. Akhire ya nyong ngomong: lha mas njenengan si kepriwe bojo wis besaran masa ra digawa ming
Puskesmas, siki dukun bayi ra olih nangani wong nganti lairan, wis siki bojone njenengan
digawa ming Puskesmas kecamatan bae nganah”. Wong kue akhire nglairna
bojone neng Puskesmas Kecamatan.
“Oh, dadi siki Eyange ra nangani lairan ya? nembe
ngerti kula.” Kata Yayu K.
“Iya K, mulane jan siki angel golet duit. Ora
kaya biyen, biyen tah jan teyeng nabung, teyeng nyisihna duit go tuku sembako,
siki tah boro-boro.”
Berikut
percakapan versi Bahasa Indonesia:
“Jujur saja K,
sebenarnya bukannya aku tidak mau tinggal disini bersama mamake. Alasanku masih di Ndesa
soalnya aku masih dibutuhkan oleh orang-orang. Kalau aku disini, ibu-ibu
yang baru saja melahirkan yang ada si Ndukuh, Keniten, Karangnangka tidak mau
ke Babakan karena jauh sih. Padahal pasaranku kana da disana. Itu saja
sebenarnya alasanku K. Aku masih dibutuhkan dan masih kuat bekerja.”
“Iya si yang. Lebih baik Eyang disana saja, jadi mudah kalau ada yang membutuhkan.”
“Selain itu jujur saja
ya K, sekarang kan aku sudah tidak pernah membimbing perempuan hamil sampai
benar-benar lahir sang bayi karena sudah dilarang. Jadi kalau ada orang yang
sudah hamil tua dia harus pergi ke Puskesmas Kedungbanteng. Pernah kemarin ada
seorang pria malam-malam mengetuk-ngetuk pintu rumah, ngomong: Eyang tolong dengan sangat itu istriku sudha
mau melahirkan. Akhirnya aku jawab: lha
mas njenengan sih bagaimana? Istri sudah hamil tua tidak dibawa ke puskesmas,
sekarang kan dukun bayi sudah tidak boleh menangani orang yang mau melahirkan. Sudah
sekarang istri njenengan dibawa ke puskesmas kecamatan saja sana.”
“Oh, jadi sekarang Eyange
tidak menangani kelahiran ya? baru tahu saya.” Kata Yayu K.
Rasa penasaran itu
akhirnya terjawab sudah kawan. Demikian.
Eh tunggu, ada rasa
penasaran lainnya nih. Kenapa ya dukun bayi di daerahku tidak boleh menangani
kelahiran? Karena penasaran akhirnya aku mencari informasi di internet. Berikut
ada link yang membahasnya:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar