Experience & Experiment

Jumat, 15 April 2016

Curhatan Dukun Bayi

Minggu kemarin aku sengaja mudik untuk nyekseni tahlilan 40 hari meninggalnya bapakku. Dari Semarang aku memilih menggunakan kereta menuju kampung halaman. Singkat cerita setelah menempuh perjalanan 4 jam lebih, sampailah aku di rumah.

Aku ingin cerita sesuatu kawan. Aku mempunyai seorang nenek, dia seorang dukun bayi yang terkenal sampai keluar desa. Nenekku sudah lama ditinggal mati oleh suaminya. Dia tinggal di lain grumbul dengan grumbul keluarga ibuku. Nenekku sudah sangat sepuh tetapi yang aku salut dia masih kuat dan semangat bekerja.

Sebenarnya keluarga kami merasa kasihan kepada nenekku ini. Sudah tua tapi masih harus bekerja, pernah suatu waktu ibuku menyarankan kepadanya untuk pensiun saja dan tinggal bersama ibu. Tapi nenekku menolaknya dan tetap memilih tinggal bersama keluarga di grumbul Ndesa. Keluarga ibuku sendiri tinggal di grumbul Babakan, 2 menit dari grumbul Ndesa. Aku sendiri masih penasaran kenapa nenekku memilih untuk tetap bekerja di usianya yang sudah senja. Malam itu rasa penasaranku terjawab.

Sehabis sholat Maghrib aku rebahkan tubuhku ke kursi panjang ruang tamu. Di ruang tamu itu hanya ada 2 orang di sekitarku yaitu nenekku dan satunya sebut saja Yayu K. Saking capeknya aku mencoba memejamkan mata sambil menutup muka dengan bantal. Sayup-sayup aku mencoba mendengar perbincangan mereka. Berbincang dan terus berbincang, akhirnya nenekku mengeluarkan unek-unek yang kemungkinan besar dipendamnya selama ini. Curhat.

“Jujur bae ya K, sebenere bukane nyong ora gelem neng kene mbi mamake. Alasane nyong esih neng Ndesa (salah satu grumbul di desaku) soale nyong esih dibutuhna neng wong-wong. Nek nyong neng kene ibu-ibu sing bar ngalirna, sing neng Ndukuh, Keniten, Karangnangka, pada bebeh ming Babakan soale adoh sih. Terus pasarane nyong kan neng kono. Kue tok jane alasane nyong K. Nyong esih dibutuhna karo esih kuat kerja.

“Iya si yang. Bener Eyange esih ng kana, dadi kepenak nek ana sing mbutuhna.”

“Selain kue jujur bae ya K, siki mbok nyong wis ra tau mbimbing wong nglairna bayi soale wis ra olih. Dadi nek ana sing wis besaran kudune ming puskesmas Kedungbanteng. Pernah wingi ana wong lanang wengi-wengi ndodog-ndodog lawang, ngomong: Eyang tulung banget kae bojoku wis arep lairan. Akhire ya nyong ngomong: lha mas njenengan si kepriwe bojo wis besaran masa ra digawa ming Puskesmas, siki dukun bayi ra olih nangani wong nganti lairan, wis siki bojone njenengan digawa ming Puskesmas kecamatan bae nganah”. Wong kue akhire nglairna bojone neng Puskesmas Kecamatan.

“Oh, dadi siki Eyange ra nangani lairan ya? nembe ngerti kula.” Kata Yayu K.

“Iya K, mulane jan siki angel golet duit. Ora kaya biyen, biyen tah jan teyeng nabung, teyeng nyisihna duit go tuku sembako, siki tah boro-boro.”

Berikut percakapan versi Bahasa Indonesia:

“Jujur saja K, sebenarnya bukannya aku tidak mau tinggal disini bersama mamake. Alasanku masih di Ndesa soalnya aku masih dibutuhkan oleh orang-orang. Kalau aku disini, ibu-ibu yang baru saja melahirkan yang ada si Ndukuh, Keniten, Karangnangka tidak mau ke Babakan karena jauh sih. Padahal pasaranku kana da disana. Itu saja sebenarnya alasanku K. Aku masih dibutuhkan dan masih kuat bekerja.”

“Iya si yang. Lebih baik Eyang disana saja, jadi mudah kalau ada yang membutuhkan.”

“Selain itu jujur saja ya K, sekarang kan aku sudah tidak pernah membimbing perempuan hamil sampai benar-benar lahir sang bayi karena sudah dilarang. Jadi kalau ada orang yang sudah hamil tua dia harus pergi ke Puskesmas Kedungbanteng. Pernah kemarin ada seorang pria malam-malam mengetuk-ngetuk pintu rumah, ngomong: Eyang tolong dengan sangat itu istriku sudha mau melahirkan. Akhirnya aku jawab: lha mas njenengan sih bagaimana? Istri sudah hamil tua tidak dibawa ke puskesmas, sekarang kan dukun bayi sudah tidak boleh menangani orang yang mau melahirkan. Sudah sekarang istri njenengan dibawa ke puskesmas kecamatan saja sana.

“Oh, jadi sekarang Eyange tidak menangani kelahiran ya? baru tahu saya.” Kata Yayu K.

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab sudah kawan. Demikian.

Eh tunggu, ada rasa penasaran lainnya nih. Kenapa ya dukun bayi di daerahku tidak boleh menangani kelahiran? Karena penasaran akhirnya aku mencari informasi di internet. Berikut ada link yang membahasnya:








Tidak ada komentar:

Posting Komentar