Experience & Experiment

Kamis, 08 Oktober 2015

Orang-Orang Seperti Mereka

Bayangkan ada seorang anak yang hidup sebatang kara -dalam artian- tidak tahu siapa Ibu Bapaknya. Menjelang dewasa, sambil duduk di teras panti asuhan dan memandangi rintik hujan. Sepi. Sendirian. Ia pun bertanya pada Tuhan, “Ya Rabb, apakah memang takdir hamba seperti ini? Engkau melahirkan hamba di dunia ini tanpa pernah hamba mengetahui wajah kedua orang tua hamba?! Ya Rabb, jika memang ini ketentuan terbaik-Mu dan memang Engkaulah Sang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hamba-Mu. Bagi hamba, selama Engkau tidak murka kepada hamba, La ubali! Hamba tidak peduli atas semua itu! Hamba ikhlas Ya Rabb. Hal terpenting bagi hamba saat ini adalah meraih mimpi-mimpi hamba. Hamba akan menjadi pribadi yang bermanfaat dan mencintai sesama. Selain itu, hamba akan terus berdoa agar kelak Engkau mempertemukan hamba dengan kedua orang tua hamba dan mengumpulkan kami semua di surga-Mu. Aamiin.”
(Sebuah tafsir dari lagu “Gelas-gela kaca” Endang S. Taurina)

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita diatas? Ayolah kawan, mereka saja yang tidak “punya” Ibu dan Bapak berkomitmen untuk menjadi pribadi yang bermanfaat. Sedangkan kita yang memiliki orangtua lengkap, tidakkah kita seharusnya lebih banyak bersyukur?. Tuhan telah menganugerahkan kepada kita orangtua yang lengkap atau setidaknya kita tahu siapa orangtua kita. Sedangkan mereka?. Ya ampun, Mereka tidak pernah mengenal wajah orangtuanya sama sekali. Mari bersyukur dengan cara menentukan dan mewujudkan mimpi sosial kita. Buanglah Kemalasan dalam diri.
Dan yang lebih penting dari itu semua adalah: Hey, bukankah kita harus bersyukur kepada Tuhan atas anugerah hidup yang kita miliki?.

Tulisan ini bukan bermaksud menyindir siapa pun. Tulisan ini hanyalah sebuah nasihat kepada kita semua -lebih-lebih kepada penulis- bahwa ada prioritas dalam hidup ini. Dan prioritas utama dalam hidup ini adalah menelusuri jalan kebenaran. Bertakwa, patuh, manut kepadaNya. Sadarilah bahwa diujung sana ada “cahaya” yang memanggil-manggil kita. Jadi kawan, mari bersama kita telusuri jalan tersebut. Demikian. Wa Allah A’lam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar