Bayangkan
ada seorang anak yang hidup sebatang kara -dalam artian- tidak tahu siapa Ibu
Bapaknya. Menjelang dewasa, sambil duduk di teras panti asuhan dan memandangi rintik
hujan. Sepi. Sendirian. Ia pun bertanya pada Tuhan, “Ya Rabb, apakah memang
takdir hamba seperti ini? Engkau melahirkan hamba di dunia ini tanpa pernah
hamba mengetahui wajah kedua orang tua hamba?! Ya Rabb, jika memang ini
ketentuan terbaik-Mu dan memang Engkaulah Sang Maha Mengetahui apa-apa yang
terbaik untuk hamba-Mu. Bagi hamba, selama Engkau tidak murka kepada hamba, La
ubali! Hamba tidak peduli atas semua itu! Hamba ikhlas Ya Rabb. Hal terpenting
bagi hamba saat ini adalah meraih mimpi-mimpi hamba. Hamba akan menjadi pribadi
yang bermanfaat dan mencintai sesama. Selain itu, hamba akan terus berdoa agar
kelak Engkau mempertemukan hamba dengan kedua orang tua hamba dan mengumpulkan
kami semua di surga-Mu. Aamiin.”
(Sebuah tafsir dari
lagu “Gelas-gela kaca” Endang S. Taurina)
Apa
hikmah yang bisa kita ambil dari cerita diatas? Ayolah kawan, mereka saja yang
tidak “punya” Ibu dan Bapak berkomitmen untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.
Sedangkan kita yang memiliki orangtua lengkap, tidakkah kita seharusnya lebih
banyak bersyukur?. Tuhan telah menganugerahkan kepada kita orangtua yang
lengkap atau setidaknya kita tahu siapa orangtua kita. Sedangkan mereka?. Ya
ampun, Mereka tidak pernah mengenal wajah orangtuanya sama sekali. Mari
bersyukur dengan cara menentukan dan mewujudkan mimpi sosial kita. Buanglah
Kemalasan dalam diri.
Dan
yang lebih penting dari itu semua adalah: Hey, bukankah kita harus bersyukur
kepada Tuhan atas anugerah hidup yang kita miliki?.
Tulisan
ini bukan bermaksud menyindir siapa pun. Tulisan ini hanyalah sebuah nasihat kepada
kita semua -lebih-lebih kepada penulis- bahwa ada prioritas dalam hidup ini. Dan
prioritas utama dalam hidup ini adalah menelusuri jalan kebenaran. Bertakwa,
patuh, manut kepadaNya. Sadarilah
bahwa diujung sana ada “cahaya” yang memanggil-manggil kita. Jadi kawan, mari bersama
kita telusuri jalan tersebut. Demikian. Wa Allah A’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar